jump to navigation

Resiprokal Satelit DHTV RI-Malaysia Segera Disepakati October 2, 2007

Posted by satelit in info.
trackback

Rabu, 17/01/2007 23:28 WIB

Resiprokal Satelit DHTV RI-Malaysia Segera Disepakati

Achmad Rouzni Noor II – detikinet

<!––>


Satellite Dish (sxc.hu)
Jakarta – Perjanjian resiprokal (azas timbal balik) layanan satelit ke rumah-rumah (direct to home television/DHTV) antara Indonesia dengan Malaysia akan segera diselesaikan, setelah sebelumnya resiprokal mengenai infrastruktur satelit telah disepakati.

“Bila resiprokal masalah infrastruktur, Indonesia telah melakukannya dengan Malaysia, di mana saat ini Telkom telah menjual transpondernya di negara tersebut,” kata Menkominfo Sofyan A. Djalil di gedung Telkom Grha Cipta Caraka, Rabu (17/1/2007).

Menurut Sofyan, pemerintah telah mengirim surat kepada pemerintah Malaysia untuk segera menyepakati mengenai resiprokal layanan televisi berbayar ke rumah-rumah agar perusahaan dari Indonesia juga bisa memasarkan layanannya di negara tersebut.

“Namun perjanjian yang sifatnya antara pemerintah ini butuh waktu dan tidak bisa dipaksakan, karena harus disesuaikan dengan prosedur dan wilayah diplomatik masing-masing negara,” tegasnya.

Menurut berbagai kalangan, termasuk Asosiasi Satelit Indonesia (Assi), sulitnya perusahaan televisi berbayar Indonesia masuk ke Malaysia karena adanya penerapan monopoli pada industri tersebut. Malaysia telah memberikan hak monopoli penyiaran berbayar kepada Astro hingga 2017.

Assi juga menilai selama belum terealisasinya resiprokal secara utuh antara Indonesia dan Malaysia, baik pada jaringan maupun jasa melalui satelit, asosiasi tersebut mengimbau kepada semua pihak terkait kembali duduk bersama guna menuntaskan permasalahan yang ada dengan mengacu pada hukum di negara masing-masing.

Menkominfo menandaskan pemerintah akan terus mendesak pemerintah Malaysia agar membuka resiprokal layanan satelit ke rumah-rumah di negara tersebut, mengingat hal yang sama telah dilakukan satelit dari Malaysia.

Pada 5 Mei, Pemerintah Indonesia dan Malaysia menyepakati koordinasi satelit kedua negara, terutama menyangkut asas resiprokal dan hak labuh satelit Measat-2 dengan Palapa C-2.

Dalam kesepakatan itu, pemerintah (Ditjen Postel) mewajibkan satelit asing memiliki hak labuh apabila dioperasikan di wilayah Indonesia, berdasarkan regulasi yang berlaku terkait ketentuan frekuensi radio Badan Telekomunikasi Dunia (International Telecommunication Union/ITU) dan asas timbal balik (resiprokal).

Saat itu Malaysia tidak keberatan terhadap masuknya satelit asing dari Indonesia di negaranya, sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan ITU dan regulasi Malaysia.

Pada saat yang sama Malaysia dan Indonesia juga sepakat mengizinkan perusahaan-perusahaan dari kedua negara menyediakan layanan satelit untuk keperluan layanan televisi berbayar di negara masing-masing.

Terkait masalah pelanggaran hukum penyelenggara televisi berbayar Astro yang menggunakan satelit Measat-2 asal Malaysia di Indonesia, Sofyan mengungkapkan hal tersebut tengah dalam penyelidikan pemerintah setelah pihaknya memberikan teguran pertama kepada perusahaan tersebut.

“Kita harus berfikir positif dulu sebelum diperiksa oleh tim dari Depkominfo. Saya sendiri belum menerima verifikasi dari tim tersebut terkait pemeriksaan terhadap Astro,” ujarnya.

Astro dikabarkan telah memberikan laporan kepada Ditjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) bahwa pihaknya telah memperbaiki kesalahan yang sebelumnya dilakukan.
( rou / rou )

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: